Tampilkan postingan dengan label Tulisanmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisanmu. Tampilkan semua postingan

18 Mar 2018

Urgensi Bahasa Arab dalam Menyongsong Indonesia di Masa Depan



Indonesia tengah menghadapi tantangan baru yaitu adanya isu-isu intoleransi dan ekstremisme. Apabila kita berselancar di media sosial, dapat terlihat bagaimana masalah ini terjadi. Fitur kolom komentar yang ada di platform media sosial acapkali menjadi arena debat terbuka bagi “sarjana internet” untuk mempertunjukkan “riset keilmuannya”. Adu fatwa akan tafsir Alquran, menyalahkan kelompok lain, dan mengancam umat yang berbeda agama, menjadi tontonan yang sering kita saksikan di media sosial. Padahal, jika diperhatikan lebih lanjut, mereka yang aktif debat kusir di kolom komentar tidak memiliki kemampuan yang mumpuni akan ilmu-ilmu agama serta bahasa Arab.
Umat Islam sebagai kelompok agama terbesar di Indonesia, memiliki peran yang signifikan dalam kemajuan NKRI. Pemahaman agama Islam yang baik, akan melahirkan akhlak serta penerapan agama yang baik pula. Islam Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan serta toleransi merupakan komponen penting dalam kebudayaan Indonesia. Hal ini terbukti dalam sejarah perjuangan Indonesia, yaitu bagaimana para peletak dasar negara ini berani membuat keputusan besar untuk mengganti sila pertama pancasila demi merangkul umat beragama yang berbeda. Kesalahan dalam memahami agama yang melahirkan sikap intoleran, paham ekstrimisme, aksi-aksi terorisme, dan lain sebagainya menimbulkan pertanyaan besar di benak umat Islam Indonesia, apa yang sebenarnya terjadi?
Paham ekstremisme dan tindakan terorisme sejatinya tidak pernah dikenal dalam Alquran, hadis,maupun liturgi-liturgi Islam lainnya. Kesalahpahaman ini lahir dari adanya misinterpretasi ayat maupun dalil yang ada dalam Alquran. Misalnya, mengenai makna kata jihad. Menurut bahasa, jihad berasal dari kata jahada yang memiliki arti ‘bersungguh-sungguh’. Jihad tidak hanya dimaknai sebagai perang, tetapi jugabisa dipahamisebagai usaha sungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan. Seseorang yang mengorbankan hartanya untuk membantu orang lain dapat dikatakan berjihad. Begitupun dengan seorang pelajar yang sungguh-sungguh belajar agar dapat mengamalkan ilmunya bagi kebermanfaatan masyarakat, juga sedang melakukan jihad. Pemahaman yang tekstual dan parsial akan dalil serta disertai minimnya kemampuan agama juga bahasa Arab menciptakan misinterpretasi makna dari dalil tersebut. Jika hal ini terjadi, akan lahir kelompok-kelompok yang melakukan tindak kekerasan, aksi main hakim sendiri atas dasar “seruan agama”, dan sebagainya.
Untukbisa memahami agama Islam dengan seutuhnya, sudah barang tentu seseorang harus memiliki kemahiran dalam berbahasa Arab. Mempelajari bahasa Arab tidak kalahpentingnya untuk dipelajari bagi setiap orang seperti mempelajari bahasa asing yang lainnya. Setidaknya terdapat enam alasan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, harus bisa berbahasa Arab. Pertama, bahasa Arab adalah bahasa Alquran. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q.S.Yusuf (12):2 dan Q.S. an-Nahl(16):103. Memahami bahasa Arab akan mempermudah seseorang untuk memahami agama Islam. Kedua, bahasa Arab adalah salah satu dari enam bahasa resmi yang digunakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lima bahasa lainnya adalah Inggris, Prancis, China, Spanyol, dan Rusia. Ketiga, bahasa Arab bersama bahasa Latin dan Sanskerta merupakan kelompok bahasa yang besar dan tua. Mempelajari bahasa Arab membuka jalan bagi kita dalam memahami sejarah peradaban manusia karena bangsa Arab merupakan bangsa yang memiliki sumbangsih besar dalam peradaban modern. Hanya bahasa Arablah yang bertahan digunakan sebagai bahasa resmi bagi 22 negara di duniakarena terus dipertahankan oleh liturgi-liturgi umat Islam dan aktif dipakai para penggunanya. Keempat, bahasa Arab digunakan di 22 negara Liga Arab. Indonesia pun telah menjalin kerjasama strategis dengan negara-negara Arab dalam berbagai macam sektor seperti minyak dan pertahanan. Kelima, terdapat sekitar 20 persen kosakata dalam bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab. Hal ini memiliki arti, bahasa Arab dan bangsa Arab mempunyai hubungan historis yang erat dengan kebudayaan Indonesia sehingga dengan memahami bahasa Arab, kita akan lebih mudah dalam menulusuri budaya maupun identitas kebangsaan kita. Terakhir, banyak dari warga Indonesia yang bekerja di negara-negara Arab dalam berbagai bidang. Hal ini menjadi vital bagi pemerintah Indonesia untuk memfasilitasi kemampuan bahasa Arab bagi penduduknya agar dapat berkomunikasi dan memahami masyarakat Arab.
Sebelum individu dikatakan mendapat legalitas sebagai seorang ulama yang bisa menafsirkan ayat-ayat Alquran maupun hadisNabi, mereka harus menguasai ilmu bahasa (linguistik) Arab dan ilmu-ilmu agama Islam lainnya. Sebut saja di antaranya adalah ilmu qawā‘id (gramatika Arab) yang terdiri dari ilmu nahu (sintaksis) dan saraf (morfologi) yang ada dalam linguistik Arab. Saraf atau morfologi adalah ilmu mengenai kata. Sementara, sintaksis merupakan ilmu bahasa yang mengkaji pada tingkatan frasa, klausa, dan kalimat. Dalam bahasa Arab, i‘rabatau perubahan bunyi akhir kata merupakan bagian dari ilmu sintaksis ini. Menguasaiilmu-ilmu tersebut pun memerlukan kesungguhan dan waktu yang tidak sebentar. Ilmu gramatika Arab berguna salah satunya untuk membaca teks-teks yang tidak berharakat (gundul) serta memahami makna kalimat dalambahasa tersebut. Namun, banyak dari umat Islam–khususnya di Indonesia–yang tidak memiliki kecakapan berbahasa Arab. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya fasilitas dari pemerintah berupa pembelajaran khusus mengenai bahasa Arab di sekolah-sekolah umum maupun kurangnya kesadaran masyarakat sendiri mengenai pentingnya berbahasa Arab.
Di tengah dinamika yang tidak menentu akan stabilitas dunia, ancaman-ancamanterutama dari segi ideologi menjadi rawan bagi Indonesia. Paham takfiri (mengafirkan kelompok lain) dan paham-paham yang serupa dikhawatirkan menggeser nilai-nilai inklusivitas Islam Indonesia. Namun, yang menjadi persoalan adalah banyak dari umat Islammemiliki keinginan tinggi untuk mempelajari agama, tetapi tidak mendapat fasilitas pembelajaran agama yang tepat atau hanya belajar secara mandiri dengan media internet serta buku-buku. Pada dasarnya, hal ini bisa saja dilakukan mengingat tersedianya kemudahan di era modern seperti saat ini, tetapi akan menjadi masalah jika kita tidak memiliki pedoman dan dasar yang kuat terlebih dahulu sertahanya mencari tahu suatu perkara agama melalui konten-konten yang tidak jelas kebenaran maupun sumbernya.

Seseorang yang tidak memiliki kemampuan dalam berbahasa Arab kerap menafsirkan suatu ayat Alquran ataupun hadis hanya bermodalkan terjemahannya. Apabila hal ini terjadi, akan timbulmisinterpretasi berupa gejala pemahaman dalil secara tekstual tanpa menilik kontekstualitas seperti  maksud ayat, makna, sejarah, dan lain-lain dalam memahami maksud ayat tersebut. Dengan demikian, umat Islam Indonesia akan semakin kuat dan toleran apabila memiliki kemampuan dalam berbahasa Arab. Keilmuan yang mumpuni dalam berbahasa Arab akan membentuk pemahaman agama Islam yang baik, komprehensif, dan inklusif sehingga potensi perpecahan serta bentuk-bentuk eksklusivitas dengan sendirinya akan tererosi dalam kehidupan berbangsa di NKRI. Akhirnya, negara ini pun bisa lebih berfokus pada program pembangunan serta kegiatan yang produktif untuk masa depan.




Ditulis oleh : Farid Mubarok, Sastra arab 2017



6 Des 2017

Festival Timur Tengah

FTT VIII UI

Festival Timur Tengah disingkat menjadi FTT merupakan salah satu acara akbar IKABA. Festival ini bukanlah merupakan festival wajib tahunan, akan tetapi... FTT ini merupakan festival bergengsi tingkat nasional dan selalu ditunggu oleh peminatnya, tak elok jika tahun ini tidak mendendangkan FTT. Pada tahun 2017 kali ini tepat FTT berumur delapan tahun, sepak terjang dan naik turun dinamika di dalamnya sungguh memberikan tamparan tersendiri. Seperti  mengulang sejarah pada FTT I yang digagas oleh kak Ghina sebagai PO, FTT VIII kini juga dipimpin oleh seorang perempuan yang akrab dipanggil Dina Arab 2014. Karakter pribadi yang ambis, tegas, teliti, disiplin dan terbuka membuatnya optimis untuk menyukseskan FTT VIII.  


Persiapan telah dilaksanakan kurang lebih enam bulan sebelum hari H. 23 divisi yang terbagi ke dalam lima bidang (Kesekretariatan, Acara, Logistik, Media-Relasi dan Keuangan) pun dibentuk untuk menopang festival ini. Mengangkat tema "Kaligrafi Timur Tengah" dengan tagline Ragam Ukiran Pena Negeri Kurma bertujuan untuk mengenalkan kembali kearifan seni kaligrafi di zaman teknologi yang semakin canggih. Konten acara FTT VIII tidak jauh berbeda dengan konten acara pada FTT sebelumnya: Perlombaan dan Pertunjukan.  Seperti biasa, festival ini dilaksanakan pada bulan april tanggal 25-28. Sebulan sebelun hari H tepatnya pada bulan maret diadakan pre-event lomba Henna War dan Hijab Fashion Show yang diadakan di Kalibata City Mall. Sedikit cuplikan keseruan pre-event FTT VIII bisa klik link di bawah ini.


Alhamdulillah pre-event berjalan dengan lancar dan sangat meriah. Kini tibalah saatnya hari yang ditunggu-tunggu yang telah dipersiapkan selama 6 bulan. Berbagai perlombaan baik dari tingkat siswa (Syi'ir & Taqdimul Qisshoh), mahasiswa (Munadzoroh, Syi'ir, Idza'ah Khobar, Esai, dan Kaligrafi Dekorasi), dan umum (Lukis Kaligrafi & Ghina') diikuti oleh para kontingen dari berbagai daerah dan tercatat ada 27 Instansi se-Indonesia yang turut berpartisipasi kali ini. Selain perlombaan, juga ada beberapa acara yang turut memeriahkan  FTT VIII : Opening Ceremony yang dihadiri oleh Dekan FIB dan Dubes Kuwait serta penampilan gambus, Pameran Kaligrafi, Seminar Kaligrafi, Pentas Seni & Malam Keakraban untuk merekatkan tali silaturahmi panitia dan para kontingen, Bazaar, dan Closing Ceremony yang dihadiri oleh walikota depok dan Menpora serta berbagai penampilan. Tiada gading yang tak retak, begitupun dengan FTT VIII ini, meskipun masih banyak kekurangan disegala lini akan tetapi respon positif dari para kontingen, dosen, dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya sebagai ganjaran atas kerja keras fikiran, tenaga, dan materi yang dikeluarkan oleh seluruh panitia. Semoga FTT dapat terus diadakan dan semakin baik amin. KILASFTTVIIIPerjalanan FTT VIII Mau tau lebih lanjut keseruan FTT VIII follow saja Ig @fttui.

Oleh: Fulaivila Faizatun Naili Arab 2014 (06/12/2017)

27 Jun 2013

Rekayasa Nilai Kuliah dalam Anugrah Tuhan dan Kekuasaan Dosen

Nilai kuliah di SIAK-NG (sistem informasi akademik online milik UI) keluar. Terkejut, tercengang, bahkan mata terbias menatap kosong paparan nilai yang benar-benar tidak bisa dipercaya ke-otentikan-nya secara pasti. Apa itu benar nilai-nilai saya? Bagaimana tidak? Nilai-nilai itu terlampau jauh dan berbanding terbalik dari usaha keras yang saya lakukan secara maksimal. Saya tidak mengharapkan nilai sempurna tanpa celah kesalahan karena itu mustahil. Sangat mustahil kecuali untuk beberapa orang saja yang kecerdasannya memang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Tapi untuk hal yang satu ini, sebagai klimaks dari masalah serupa yang saya dapatkan sejak semester pertama kuliah di universitas yang dalam kacamata saya terbaik di Indonesia,

12 Jun 2013

Untukmu Yang Sedang Menikmati Pendidikan

Untukmu yang sedang menikmati pendidikan, baik PAUD, TK, SD, SMP, SMP, SMA, PT hingga pelatihan-pelatihan vokasional, ucapan selamat pantas untukmu atas kebahagiaan karena bisa menempuh pendidikan dan pengajaran secara utuh, resmi dan formal yang terjamin dalam hal kurikulum, suplemen, fasilitas dan kejelasan status.

13 Apr 2013

Cerita Sore #2


Ketika hujan masih tak berhenti ,

dan rintik hujan pun masih membasahi

Ketika itu pula hati ini masih menangis

dan air mata pun masih membasahi wajahku

Hujan, mengingatkanku pada sore itu

Cerita Sore #1


Pertama bertemu sore itu,

Di bawah rindang pohon mahoni

sepoi angin sore dan riak air danau mampat pun jadi saksi

kau memanatapku dengan senyum indah terukir di wajah indahmu

tapi ku tak tahu, makna tatapan itu

di dalam relung hatiku berharap

1 Apr 2013

Secuil Arti Kehidupan dari Cermin Kopra

Sebetulnya, judul pun tak ada kaitannya dengan serial ini.

Beberapa Minggu ini Kaktus dan Karet telah pulih dari cedera psikologisnya. Alhamdulillah. Mereka sudah bisa tertawa dan menari balet, berguling-guling tanpa tujuan di klaster semenjak azan shubuh sampai maghrib. Mereka bisa tertawa lepas terbahak-bahak meski mereka sadar mulut mereka terbuka lebar di depan wajah seorang dosen. Menghujani wajah si dosen apes dengan hujan buatan dari saliva yang tidak hanya mengandung senyawa garam (NaCl) beryodium, melainkan dalam cairan pembuat peta otomatis tersebut, mengandung pula senyawa bahan pembuat minuman Mijon, Magnesium-Elektrolit, lalu ada pula enzim alfa-amilase dengan p.h minus empat, serta yang tak kalah menarik saliva mereka mengandung potasium klorat, sedikit senyawa amoniak dan asam amino untuk bahan mercon bulan ramadhan. Lihat saja, wajah si dosen serentak berganti rona kemerahan, mengeriput perlahan dan kegirangan, berteriak dalam hati (ah, ah, lagi, lagi) dan entah datang darimana, kemudian si dosen malah berkeramas penuh penghayatan dengan shower dari limpahan air terjun saliva Kaktus dan Karet, sebagaimana iklan sampo sansilik yang biasa saudara-saudara lihat di televisi berwarna. Tentu, dengan gaya yang aduhai...... Memprihatinkan.

Kaktus dan Karet telah pulih dari cederanya. Saya pikir hal ini tidak akan terjadi cukup lama, mungkin hanya beberapa hari saja. Hal ini tidak bisa dijadikan patokan, toh kemarin Karet membalas tulisan ini dengan judul yang cukup samar, sedikit kata semantik namun tak berhubungan sama sekali. Yah setidaknya ia menutupi masalahnya untuk menyerang Kaktus sebagai terdakwa. Saya rasa hal yang demikian biasa saja, yang jelas hal itu wajar-wajar saja. Itulah hidup, hati senantiasa terbolak-balik, kadang tegas dan kadang lemah. Tak ada yang mengingkari bahwa sesungguhnya sekuat apapun hati, pasti ia akan selalu berubah. Sehingga tidak mengherankan jika engkau tinggal di sini. Fakultas ini penuh dengan panah dan busur-busur yang siap dilepaskan dari para pemilik wajah seindah bulan. Wajar saja karet melentur selentur-lenturnya dan kaktus menjadi kaku sekaku-kakunya. Di sini terlalu banyak bidadari sebagaimana banyaknya air yang memenuhi langit ketika hujan. Tapi, lupakan itu kawan. Kita tidak berbicara tentang masalah ini. Kita tidak akan berbicara tentang Kaktus dan Karet. Kita akan berbicara tentang kehidupan, kita berbicara mengenai hal yang lebih bermanfaat dan berfaidah, Insya Allah.

26 Mar 2013

Masa Muda dan Keindahan Cinta

Hasrat masa muda akan kesenangan 
dan kenikmatan cinta 
      yang tidak terlalu menuntut tanggung jawab
      hanya akan terpenuhi apabila fajar
      telah menyibakkan kegelapan hari

Keindahan menjadi milik usia muda, tapi keremajaan yang untuknya dunia ini diciptakan tidak lebih dari sekedar mimpi yang manisnya diperbudak oleh kebutaan yang menghilangkan kesadaran.  Akankah hari itu datang, ketika orang bijak menyatukan kemanisan masa muda dan kosong jika hanya seorang diri. Adakah hari itu datang ketika alam menjadi guru manusia, dan kemanusiaan menjadi bacaan, sedangkan kehidupan adalah sekolah sehari-hari?

Hasrat masa muda akan kesenangan dan kenikmatan cinta yang yang tidak terlalu menuntut tanggung jawab hanya akan terpenuhi apabila fajar telah menyibakkan kegelapan hari.

Lukisan Kahlil Gibran: Marianna
Banyak lelaki yang tenggelam dalam kemabukan masa mengutuk bertahun-tahun tak berguna mereka seperti raungan betina yang kehilangan anaknya; dan banyak para pemuda dan pemudi yang menggunakan hati mereka sekedar sebagai penggali kenangan pahit di masa lalu; mencelakai diri melalui kebodohan anak panah yang tajam dan beracun karena hilangnya kebahagiaan.

25 Mar 2013

Pagi, Rezeki yang Harus Disyukuri

Pernahkah di suatu pagi anda membuka jendela, lalu anda rasakan segarnya udara pagi? Di sejauh saujana hantaran alam, pandangan anda seakan dibasuh segarnya embun pagi. Anda perhatikan udara begitu bersihnya, tanpa polusi. Alangkah damainya jiwa ketika itu. Nun jauh di sana, sang surya tersenyum kepada anda, menyambut anda dengan ucapan: “Selamat pagi wahai pemuda yang bangun di pagi hari. Semoga hari ini anda selalu mendapatkan keuntungan dan keberkahan”.

Pelajaran Semantik di dalam Hati Bawang kepada Merpati namun Tidak bagi Kaktus

Pukul 13.30 semua mahasiswa sudah memikirkan hal-hal apa yang akan mereka lakukan setelah kelas ini selesai, ada yang memikirkan nanti malam bakal jalan sama siapa? Mau pulang nebeng siapa? Makan malam pake apa?

Itu semua sudah menjadi hal yang biasa bagi saya, tapi ada salah satu teman saya yang memikirkan hal yang lebih menarik dan mungkin bisa dibilang pribadi--justru hal itulah yang menggugah rasa ke KEPO an saya pada apa yang sedang ia pikirkan. 

21 Mar 2013

Lelaki Bermata Teduh (I)

Siang itu aku terburu-buru untuk bergegas ke kantin, maklum perutku sudah mengeluarkan nyanyian tadi karena seperti biasa aku lupa membawa sarapanku karena terburu-buru berangkat ke sekolah. Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku melihat ke layar ponsel, ternyata Irvan yang mengirim pesan singkat kepadaku. Ia ingin menjemputku pulang sekolah sore ini agar bisa sekalian pergi berenang—karena memang pemandian umum itu tak jauh dari rumahku.

19 Mar 2013

Mundurnya Umat Islam karena "Biadab"

Zaman pun sudah berlalu, roda terus berputar, angin terus berhembus meninggalkan negeri menuju negeri yang lain, jejaknya memberi  kesan yang mendalam di sanubari.  Peradaban  Islam yang pernah berjaya kini tinggal cerita. Apa hendak dikata, Tuhan pun bercerita dalam Quran Agung: 
"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran” (QS. Al-Imran :140)

18 Mar 2013

Filsafat Jodoh untuk Kaktus dan Karet

Selepas kelas Pak Ojan, dalam geliat angin senin pagi, tiba-tiba tangan saya tergerak memukul ruas-ruas keyboard secara tak beraturan. Menuntun pikiran saya menatap lurus ke hamparan air yang bergelombang di depan mata, menggoyang pantulan warna merah jembatan Teksas, melayang jauh entah kemana. Bukan ke FE, FIK, atau MIPA.

16 Mar 2013

Festival Timur Tengah

Kita memang selalu merasa bangga dengan acara ini. Banyak sekali yang kita lakukan untuk memperjuangkan kesuksesan acara ini. Setahun atau sekitar 10 bulan adalah waktu yang panjang untuk membuat acara ini menjadi senikmat yang sudah-sudah. Sekarang sudah menginjak yang ke-empat kalinya kami mahasiswa prodi Arab mencoba memperjuangkan keberadaan acara yang memiliki berbagai manfaat ini. Tidak hanya senang-senang yang kami incar, tapi beberapa sejarah yang tidak ada sebelumnya. Sebenarnya arah penulisan ini tidak begitu jelas saya memulai, membahas, dan mengakhirinya di bagian mana.

8 Nov 2012

Dan Bendera Itu Pun Berkibar di Jogja!

Dan bendera itu pun berkibar di Jogja!

Berita itu terdengar hangat dan sangat halus, seakan hangatnya melebihi pijatan mentari di kala pagi. Halus, lebih halus dari sutra dan buluh perindu. Kehangatan itu kemudian menjalar, mengaliri setiap aliran darah dan membuat setiap jiwa yang mendengar tertegun sesaat karena takjub. Berita itu hangat dan sangat harum. Berita yang dirindukan bertahun-tahun oleh para pemilik himmah dan cita-cita, yang apabila mengingatnya maka terlintaslah peluh dan nampak jalan yang menanjak lagi tinggi.

Hingga kemudian, saat yang dirindukan harus beralih menjadi kenyataan. Mau tak mau. Karena roda serta titian nasib terus berputar dan matahari terus berjalan pada garis edarnya. karena Tuhan mendengar doa-doa yang dipanjatkan, karena Tuhan menyaksikan setiap usaha yang dilakukan. Maka ia mengabulkan keinginan itu.

26 Agu 2012

Aku, Kalian, Kita dan Siapa?

Beberapa tahun sebelum waktu berjalan tiba, kami berlari menembus batas waktu yang terhimpit dan berdiri membatasi zaman. Antara masa lalu dan masa depan yang saling menindih, meletakkan celak asa kekhawatiran dan seribu satu harapan yang mengambang.

Kami telah terbiasa terdesak, dipukul matahari, disengat dingin dan bayangan kematian yang bisa datang kapan saja. Butiran keringat yang membanjiri peluh, pukulan kata-kata yang menyakitkan dari sekian celaan tajam manusia, dan hamburan senyuman yang selalu kami biarkan mengembang dan bersemi dipahatan wajah keras yang kami miliki. Keras ditempa zaman, dihentak masa, dicekal waktu. Karena telah kami biarkan berlalu, kami juga berusaha mengiringinya.

Bahkan berlari beberapa jarak didepan, mendahuluinya. Telah lama himpunan masa itu berlalu. Akhirnya, sekarang kami sampai pada kesimpulan yang lekang dan rapuh. “hidup tak lain hanya kumpulan tawa dan tangis, harapan dan rasa takut, perjuangan dan pertahanan, peperangan kebenaran dan kejahatan, selebihnya? Tidak lebih hina dari sayap nyamuk”. Lalu, kalaulah begitu apa yang seharusnya kami harapkan?

Masa lalu kami adalah kumpulan memori yang gelap dan suram, penuh dengan teka-teki makna beserta hikmah, kadangkala kami menemukan artinya secara tak sengaja. Jauh setelah waktu itu berlalu, setelah bayangan itu tenggelam digenggam zaman. Kalaulah seandainya engkau meminta kami menceritakan, tentu tak akan pernah kami menceritakan kepada kalian.

Siapa shahabat kami yang rela berjalan beriringan? Tidak ada. Shahabat kami hanyalah petir yang menyambar, shahabat kami hanya pekatnya angin dan rintik hujan dikala musimnya. Mematuk, memekik, meraung. Alam adalah shahabat kami. Kami tak perduli manusia bukan karena kami tak perduli. Tetapi, merekalah yang sebenarnya tak pernah perduli. Lihatlah senyum palsu yang mereka tarik disimpul wajahnya ketika seorang bocah kecil pemanggul derita menghadapnya. Senyum itu mengusir siapapun, orang yang lebih hina menurut mereka, untuk segera pergi secepatnya. Sejauhnya. Tanpa perduli himpitan masa depan yang masih gelap dan berdiri menjulang didepan sang pembawa derita. Saya, kami, kamu, dia, aku, kita adalah satu bagian utuh yang terpisah. Kepingan sejarah yang tercerai berai, kemudian menjalin dan saling bertaut untuk membentuk sebuah cerita yang beragam. Pro dan kontra, berbeda sudut pandang dalam setiap masalah.

Senantiasa dalam berbagai keadaan, leher kami terjerat oleh tajamnya pedang zaman. Terbelenggu oleh kokohnya cengkeraman pandangan mata yang cela. Menuntut kami melakukan apapun yang ingin kami jauh darinya sejauh barat dan timur, titik hilang sejauh mata memandang. Apalah. Bersama pula kalian berseru diantara mereka. Tak ada lagi yang perlu kita risaukan bersama karena selalu tak ada jalan keluar yang sempurna menurutku. Biarkan kami berjalan, dan kami biarkan kalian terus membakar mulut kalian dengan cela api yang disemburkan kepada langkah dan sekitar jalan kami.

Bukankah setiap jalan itu berduri? Sekalipun taman mawar yang dipenuhi keindahan dan semerbak harum pesona yang senantiasa tak pernah memukul lebah-lebah untuk terpesona.
Kataku, kata-kataku, adalah lazimnya senjata yang kumiliki
Senyuman, dan tumpahan airmata, adalah sekian ribu pelipur derita nestapa
Langkahan kaki kami, tatapan lurus wajah kami, tak kan pernah bisa berpaling hanya karena kalian.
Kami, sekalipun beratnya tekanan tak akan pernah mampu dikekang selain oleh Tuhan
Itulah kemuliaan kami dan kami rela menempuhnya.
Kami, sepenuhnya adalah manusia merdeka

(di bawah gantungan tiang nasib, hamba Allah yang merdeka)


Ditulis oleh:
(Anonim) - Arab 2011

17 Agu 2012

Puisi Kemerdekaan

Aku cintai negeriku sepenuh hati
kubela dia dan kugenggam erat benderaku
negriku merana aku tak rela
merah membara mendidih menetes darah
tercabik sayatan para peluka di atas mimbar kedigdayaan
nusantaraku aku rengkuh dirimu
kupeluk engkau kulepas aku tak mau
dengan cinta yang memantulkan putih sucimu
aku bela warnamu sepanjang jalur terbit mentari fajar di timur Sabang dan ufuk di barat Merauke



Widget

Catatan | Bahasa, Linguistik, Sastra, Latar Belakang, Tokoh

Widget