Nilai kuliah di SIAK-NG (sistem informasi akademik online milik UI) keluar. Terkejut, tercengang, bahkan mata terbias menatap kosong paparan nilai yang benar-benar tidak bisa dipercaya ke-otentikan-nya secara pasti. Apa itu benar nilai-nilai saya? Bagaimana tidak? Nilai-nilai itu terlampau jauh dan berbanding terbalik dari usaha keras yang saya lakukan secara maksimal. Saya tidak mengharapkan nilai sempurna tanpa celah kesalahan karena itu mustahil. Sangat mustahil kecuali untuk beberapa orang saja yang kecerdasannya memang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Tapi untuk hal yang satu ini, sebagai klimaks dari masalah serupa yang saya dapatkan sejak semester pertama kuliah di universitas yang dalam kacamata saya terbaik di Indonesia,
sampai tiba masanya di akhir semester empat ini. Saya mencoba untuk berbaik sangka, mungkin ada bermacam sebab lainnya yang menyebabkan nilai saya diametral dengan segenap hal-hal yang logis dan sah bisa dipertanggungjawabkan untuk mendapatkan nilai yang secara subjektif saya bilang "memuaskan. Mungkinkah?
sampai tiba masanya di akhir semester empat ini. Saya mencoba untuk berbaik sangka, mungkin ada bermacam sebab lainnya yang menyebabkan nilai saya diametral dengan segenap hal-hal yang logis dan sah bisa dipertanggungjawabkan untuk mendapatkan nilai yang secara subjektif saya bilang "memuaskan. Mungkinkah?
Mungkinkah sekali lagi? Entah. Saya menulis bukan karena saya kecewa dengan nilai-nilai yang saya dapatkan. Tapi saya menulis karena kecewa atas ketidak-transparan-annya nilai yang saya dapatkan. Berulang, berulang dan terus berulang. Begitu seterusnya. Entah sampai kapan akan terus berulang. Jika seandainya SIAK-NG digunakan sebagai sistem pelaporan tetek bengek akademis dari rencana perkuliahan, kredit SKS, identitas mahasiswa, sampai tempat "konsultasi" antara dosen dengan Pembimbing Akademiknya, maka tentang nilai yang saya tanyakan adalah seberapa efektif sistem ini digunakan. Sejak nilai saya keluar di akhir semester ganjil tahun 2011, sampai sekarang di akhir semester genap tahun 2013, masalah utama tetap saja konstan, yaitu ketidakjelasan. Jadi sebenarnya, fungsi utama dari SIAK-NG dalam pengembangan kompetensi mahasiswa itu tidak berjalan. Bagaimana mungkin mahasiswa bisa mengetahui dimana letak kelemahan yang seharusnya dia perbaiki jika detail kesalahan dan kekurangannya dalam suatu mata kuliah tidak ia ketahui secara pasti. Lalu fungsi kolom detail nilai di SIAK itu apa jika selamanya kosong? Saya tidak tahu apakah kasus semacam ini terjadi juga di jurusan ataupun fakultas lain. Tapi saya sebagai mahasiswa Sastra Arab dan mahasiswa FIB merasakan ketidaknyamanan ini. Apakah kolom detail nilai itu hanya dijadikan sekedar pemanis mata, atau karena tendensi-tendensi yang lain? Saya rasa tidak. Hal ini cukup menggelisahkan mengingat hampir hasil dari semua mata kuliah yang telah keluar, detailnya kosong sehingga mahasiswa-mahasiswa macam kami ini gelisah, gelisah karena tak mengetahui secara pasti dimana letak kekurangan yang sepantasnya dievaluasi dan kemudian diperbaiki.
Lebih lucunya lagi tentang pengisian EDOM (Evaluasi Dosen Oleh Mahasiswa). Apa mungkin kami bisa mengevaluasi dosen, terlebih pada pertanyaan apakah dosen sudah cukup objektif dalam memberikan nilai, "apakah nilai yang saya dapat sesuai dengan usaha (jujur) yang saya lakukan", dan beberapa bualan lainnya yang cukup menggelitik ketika EDOM yang berisi pertanyaan seputar kinerja dosen dan hasil dari kinerja mahasiswa pada mata kuliah yang bersangkutan jika diharuskan di isi terlebih dahulu agar nilai atau hasil "kerja" kita terhadap mata kuliah yang bersangkutan nampak. Lalu bagaimana kita bisa menilai nilai sebagai sebuah output itu objektif jika nilai keluar setelah mengisi EDOM ? Sangat tidak masuk akal dan tidak pada tempatnya.
Tentang nilai, saya tidak terlalu mempermasalahkannya apakah saya lulus, mendapat nilai hitam atau merah, A atau C, ataukah pertanyaan lain asalkan nilai itu bisa dipertanggungjawabkan secara riil (melalui kolom detail di SIAK) dan moril (melalui sikap perkuliahan, adab terhadap dosen, kejujuran, disiplinitas, dan keaktivan selama proses perkuliahan). Berbicara tentang nilai akhir, kebetulan saya mendapat kesempatan secara langsung melihat beberapa teman yang "beruntung" mendapatkan nilai jauh diatas nilai saya ketika mereka membuka SIAK-nya. Beberapa nilai mata kuliah yang sama-sama kami ikuti menimbulkan beragam pertanyaan menggelisahkan. "Ada apa ini?", "Kenapa bisa begitu?", dan semacamnya.
Tanpa merendahkan dan bermaksud untuk berlaku sombong, saya tahu secara pasti bahwa teman-teman saya ini budaya literasinya bisa dibilang dibawah standart, beberapa kali absen, ketika mata kuliah sedang berlangsung mereka cenderung lebih banyak asyik sendiri, kurang aktif, tidak memperhatikan pemateri, dan ketika ujian berlangsung mereka tak segan-segan mencontek baik sembunyi maupun terang-terangan. Saya tak habis pikir, apakah dunia ini masih di isi oleh orang-orang yang baik, atau apakah orang-orang yang baik itu terlalu ideal sehingga tidak pernah ada didunia ini. Sekali lagi, sebagai seorang mahasiswa yang penuh dengan kekurangan dan berusaha berbuat baik, saya tak pernah absen pada beberapa mata kuliah itu dalam satu semester belakangan, saya adalah salah satu orang yang mencoba aktif dikelas dengan penuh "penghayatan", menyempurnakan beberapa mata kuliah yang mampu untuk saya sempurnakan sebaik mungkin, serta tetap pada pendirian bahwa cara-cara kotor seperti mencontek adalah hal yang harus, mau tak mau dihindari, meski konsekuensinya nilai cemen (Cmin, tidak lulus). Saya tidak ingin membandingkan, karena diri saya pun terlalu buruk untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan. Namun untuk hal-hal yang secara sederhana seperti nilai ini, kan tidak perlu menggunakan logika yang cukup tinggi untuk memahami apakah hal ini layak, sesuai atau tidak masuk akal. Bukan begitu?
Sampai pada pertanyaan saya pada salah seorang teman tersebut, bagaimana dia bisa mendapat nilai yang "tidak mungkin" itu? Eh, dengan entengnya dia menjawab, "yang penting dikau bisalah dekat-dekat dengan dosen, bisa dikenal dosen, macam jinak-jinak merpati-lah". "lagipula, daripada dikau nggak lulus lagi kan lebih baik nyontek, yang penting luluslah, masalah nilai mah gampang. Kita tinggal duduk disamping si anu atau si anu".
Tenggorokan kering saya tercekat, tak percaya. Tapi apa dikata, beberapa fakta dari beberapa teman yang saya amati memang mengarah ke sana. Saya teringat pada beberapa dosen ketika sempat saya temui dalam sebuah acara non-formal, tak ada hubungannya sama sekali dengan akademik, mengancam salah seorang mahasiswanya dengan term "lulus" atau "tidak lulus" pada mata kuliahnya jika ia tidak mau melakukan apa yang ia inginkan. Sungguh tragis apa yang dialami oleh dunia intelektual dan pendidikan kita. Sungguh tragis ketika dosen-yang katanya memiliki kuasa seperti Tuhan pada mahasiswanya kehilangan unsur objektivitas dalam memberikan nilai dan hasil perkuliahan. Cukup tragis, ketika unsur kedekatan, intimitas, tingkat pengenalan dan rasa suka-tidaknya terhadap seorang mahasiswa mampu berbulir menjadi nilai-nilai yang berbeda rasanya. Bukan karena faktor empiris dan realitas akademik. Pada masalah ini, saya mulai mampu mengenali "kesalahan" saya sebagai mahasiswa idealis. Pada zaman ini, terlampau kritis itu tidak baik, terlampau banyak meluruskan kesalahan itu tidak baik, terlebih kesalahan dosen, yang baik adalah yang diam, yang menerima bulat-bulat, yang menunduk setunduk-tunduknya, dalam-dalam seperti budak pada masa feodalisme (meski masa ini masih berlangsung), dan menerapkan asas praktis pragmatisme "ABS" (Asal Bapak Senang). Tapi dunia lain, kesucian jaket kuning terlalu mahal untuk dipertaruhkan pada hal-hal hina seperti itu. Kata Hok-Gie, guru itu bukan Tuhan yang segala titahnya mutlak benar dan mahasiswa bukan pula kerbau yang hanya diam ketika hidungnya dicocok dengan besi panas. Mahasiswa (yang bebas) tahu benar mana yang salah dan mana yang benar. Hanya saja, kata Hok-Gie lagi, "di Indonesia hanya ada dua macam manusia. Idealis dan Apatis. Dan saya memutuskan untuk menjadi manusia yang idealis, sampai batas yang sejauh-jauhnya". Saya setuju dengan Hok-Gie, cukup untuk menjadi pohon Oak yang kokoh, bukan menjadi pohon bambu yang terseok ke kanak dan ke kiri dihempas angin.
Saya tak percaya lagi dengan kata-kata bahwa setiap komponen dan entitas universitas ini menyanjung tinggi nilai-nilai luhur integritas, keteladanan dan keadilan seperti dalam mottonyaVeritas, Probitas, Iustitia (Kebenaran, Kejujuran dan Keadilan) (tapi saya yakin masih ada orang yang teguh untuk itu). Motto yang mulia ini, dimana dalam sejarahnya mampu menumbangkan kebathilan, kesewenang-wenangan dan ketidak-adilan kini menjadi barang yang mahal. Universitas ini kini kehilangan karakter kuatnya sebagai seorang teladan. Kejujuran menjadi barang yang terlalu mahal dan sulit dicapai dikalangan mereka yang borjuis, mau enaknya sendiri dan pragmatis. Tak peduli dengan sarkasme dan pengucilan, menurut saya sudah seharusnya "sampah-sampah" intelektual semacam ini dibersihkan, atau kalau pun tak bisa sebaiknya dihilangkan. Barang yang kotor pada hakikatnya menciptakan aroma busuk dan preseden yang tak kalah berantakan. Saya ingin obat bagi penyakit yang diderita universitas ini. Rugi, rugi sekali, sangat disayangkan jika universitas yang penuh sejarah ini diisi oleh mereka-mereka. Rasa-rasanya kita perlu bersikap tegas pada masalah moral ini. Kalau kata Hatta tujuan utama pendidikan adalah memanusiakan manusia, maka apakah ini yang dimaksud memanusiakan manusia, maka apakah dengan mahasiswa dan dosen semacam itu tujuan utama pendidikan ini tercapai? Hanya Tuhan yang tahu !
Ditulis oleh:
Afandi Satya .K - Arab 2011
@avandysatya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar