19 Okt 2013

Spiritualitas Gerakan Zaman Baru

Feng Shui, Chakra, Aura, Numerologi, universalisme, karma, reinkarnasi, IQ, SQ, EQ, zikir, doa, terapi holistik, yoga, self-help, ESQ 165, Damanhur, Freemason (?). Ada apa dengan semua nama yang disebut di awal? Apa hubungan itu semua dengan judul tulisan di atas? Teman-teman mungkin ada yang baru mengetahui istilah Gerakan Zaman Baru (singkat saja GZB) ini seperti penulis, tetapi saya yakin teman-teman sudah kenal dengan beberapa bentuk pemikiran dan praktik tersebut.

Apa itu Gerakan Zaman Baru?
Gerakan Zaman Baru (inggris: New Age Movement) adalah suatu gerakan spiritual yang berpusat pada manusia dengan usaha menemukan kembali dan menggabungkan spiritualitas serta tradisi metafisika kuno, terutama dari Timur. 

Latar Belakang
Setiap manusia tentu pernah merasakan adanya krisis atau kekosongan jiwa yang kemudian mendorong manusia untuk menemukan kembali spiritualitas dalam dirinya. Adapun manusia yang yang sudah maju intelektualitasnya, stabil secara material, namun merasa itu tidak menjamin kepastiasehingga mereka mulai mencari spiritualitas untuk mendapatkan kepastian yang diharapkan. Dalam penelitian-penelitian modern, kurangnya nilai-nilai spiritual dalam diri manusia dapat menyebabkan berbagai permasalahan dan penyakit yang menyerang fisik maupun moral.

Salah satu penyakit dari kuangnya spiritualitas adalah munculnya skeptisme terhadap "institusi" agama. Skeptisme terhadap agama muncul karena keprihatinan, ketidakpuasan, trauma, hingga rasa anti pada moral penganut bahkan ajaran kepercayaan tertentu. Religiusitas dianggap tidak lagi dapat membimbing spiritualitas manusia ke arah yang lebih baik. Tren inilah yang membangkitkan Gerakan Zaman Baru, terutama yang berkembang pada masyarakat Barat sekitar pertengahan abad ke-20, sekitar zaman pasca Industri. Kini, GZB mulai mengglobal dan bahkan sudah tumbuh di lingkungan kita tanpa kita sadari.

Dasar-dasar Spiritualitas Gerakan Zaman Baru
Menurut Matt Slick dalam tulisannya di website carm.org, spiritualitas GZB memiliki dua dasar, yaitu evolusi ketuhanan dan kesatuan yang mengglobal. Evolusi ketuhanan adalah bentuk kepercayaan yang menyatakan bahwa manusia dapat menemukan tuhan atau spiritualitas dengan berbagai jalan; manusia dapat menemukan "tuhan" di dalam dirinya sendiri. Kesatuan yang mengglobal hadir karena munculnya kembali kesadaran bahwa manusia harus menyatu dengan alam, sesama manusia, dan tuhan. Orang-orang yang melaksanakan proses penemuan spiritualitas, akan dapat menemukan, melakukan, atau mempercayai hal-hal di luar realitas mereka dalam perjalanannya.

GZB dan Toleransi
Kompleksnya krisis spiritualitas dalam diri manusia telah membangkitkan cita-cita toleransi. Ini adalah salah satu prinsip turunan yang diyakini oleh praktisi GZB. Ada kepercayaan bahwa moral yang absolut hanya ada dalam diri masing-masing individu. Manusia satu sama lain pada dasarnya memiliki pandangan atas kebaikan maupun keburukan, sehingga salah satu cara untuk mengharminokan relativitas tersebut adalah dengan saling menghargai. Sejalan dengan itu, seperti yang diungkapkan Immanuel Kant, dasar moral manusia adalah kebaikan. Jadi tidak perlu mengekang manusia dengan aturan tertentu, yang perlu dilakukan manusia adalah terus berbuat kebaikan. 

Bagaimana jika manusia tidak melakukan banyak kebaikan dalam hidupnya? Maka manusia akan mendapat karma dan harus mengulang hidup untuk memperbaiki diri. Itulah mengapa sejumlah praktisi GZB biasanya mempercayai adanya reinkarnasi. Di lain sisi, adapula yang berpendapat bahwa untuk mencapai toleransi dan "perwujudannya", diperlukan suatu "pengikat". Pengikat ini bisa berupa kepercayaan baru, visi misi tertentu, atau seorang pemimpin perdamaian. 

Praktik GZB
Kembali melihat ke latar belakang, kebutuhan spiritual setiap manusia sangatlah beragam. Keberagaman itulah yang memunculkan beragam praktik pemenuhan spiritual. Dalam ajaran agama monoteis, manusia dituntut untuk selalu mengingat Tuhannya, meminta segala sesuatunya kepada-Nya, dan melaksanakan praktik yang berlandsakan Ihsan. Lalu apakah kepuasan manusia terbatas? Jika tidak, manusia mungkin akan mencari alternatif lain, namun alternatif apa yang akan dicari manusia, sementara kebutuhan spiritual manusia berbeda-beda?

Ada 1001 cara untuk memenuhi kebutuhan spiritual manusia guna mencapai ketenangan batin. Musik, terapi, pengobatan, kisah-kisah dalam film dan novel, secara kasat mata itu semua dapat memberi pengaruh baik bagi batin manusia dan itu sudah dibuktikan manusia melalui sejarah dan ilmu pengetahuan. Fenomena yang terjadi pada GZB adalah globalisasi dan komersialisasi. Berbagai bentuk praktik "pengobatan" spiritual di zaman GZB ini membuka jalan bagi siapa saja, tanpa melihat perbedaan, batasan, individual atau komunal.

Sumber:
- Matt Slick. What is the New Age Movement. http://carm.org/new-age-what
- Bronislav Szerszynski. Religious Movements and the New Age: Their Relevance to the Environmental Movement in the 1990s. http://www.lancaster.ac.uk/fass/centres/csec/docs/szerszynski_NRM.pdf
- Film dokumenter: Empire Me - Der Staat bin ich! (2011)

Ditulis oleh:

Erika K. - Arab 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Widget

Catatan | Bahasa, Linguistik, Sastra, Latar Belakang, Tokoh

Widget