Ada sebuah ungkapan pertanyaan yang sekarang lagi ngetrend di kalangan anak-anak muda ketika ia menemui seorang temannya lagi kepo. Saat temannya yang kepo itu bertanya perihal suatu masalah, maka temannya yang ditanya tersebut sebelum menjawab malah melemparakan sebuah pertanyaan balik--dengan mimik yang khas itu, “mau tahu banget atau mau tahu aja?”
* عَلِمَ – يَعْلَمُ Tahu/Mengetahui
Kasus di atas sebenarnya tidaklah begitu penting, apalagi harus dikaji secara ilmiah, tetapi saya memiliki alasan tersendiri mengapa saya (dalam tulisan ini) mengkaji ungkapan itu, adalah ketika saya menemui perdebatan terjemahan bahasa arabnya. Terjemahan--yang saya temui dalam sebuah status FB--seperti ini:
ستعرف فقط أم ستعرف جدا ؟
Bila ditelisik, memang ada kesalahan dalam terjemahan harfiah kalimat ini, harusnya terjemahannya:
هل تريدُ أن تعرفَ جدا أم تريدُ أن تعرفَ فقط ؟
Sekali lagi ini adalah terjemahan harfiah.
Dari kasus di atas maka muncullah pertanyaan dalam pikiran saya. Di dalam ungkapan tersebut ada kata “banget” (جدا) sebagai sifat keingintahuan yang sangat, dan kata “aja” (فقط) sebagai sifat keingintahuan biasa. Keluar dari jebakan terjemahan harfiah, saya mencoba menilisik terjemahan tersebut ke arah kontekstual. Bukankah banyak kata di dalam bahasa arab yang bersinonim namun memiliki tingkat makna dan penggunaan yang berbeda?, ini masih dalam satu bahasa apalagi setelah melalui proses penerjemahan ke bahasa lain. Aristoteles mengatakan, ‘sangat mustahil ditemukan sinonim yang pas pada bahasa lain’. Sebagai contoh dalam kasus verba ‘tahu’ atau ‘mengetahui’.
* رَأَى – يَرى Melihat
* عَلِمَ – يَعْلَمُ Tahu/Mengetahui
* دَرَى – يَدْرِي Mengerti/Mengetahui
* عَرَفَ – يَعْرِفُ Kenal/Mengenal
* فهم – يفهم Paham/Memahami
* فقِهَ – يَفْقَهُ Mengerti/Memahami
Analisis
Pada umumnya kata-kata tersebut memiliki makna yang sama, yakni mengetahui. Akan tetapi kata-kata tersebut memiliki perbedaan dalam hal tingkat kepahaman.
1. Kata رَأَى – يَرَى , secara leksikal (harfiah/kamus) bermakna ‘melihat’, tetapi ia juga bisa diartikan ‘mengetahui’, bisa dilihat pada ayat Al-Qur’an terjemahan Depag yang
1. Kata رَأَى – يَرَى , secara leksikal (harfiah/kamus) bermakna ‘melihat’, tetapi ia juga bisa diartikan ‘mengetahui’, bisa dilihat pada ayat Al-Qur’an terjemahan Depag yang
berbunyi أرءيتَ الّذي يكذّب بالدين (QS. al-ma’uun :1) artinya, “tahukah (lihatkah) kamu orang-orang yg mendustakan agama?”
Dalam kamus Al-Bisri kata رَأَى juga bermakna حَسِبَ yang berarti ‘menyangka’ atau ‘menduga’.
Dari kedua alasan ini, kata رأى tidak bisa dikatan sebagai suatu kata kerja ‘mengetahui’ yang memiliki makna ‘tahu banget’ (جدا), karena, ‘melihat’ adalah suatu tahapan dalam proses (ingin menjadi tahu) mengetahui, belum benar-benar tahu. Dan makna ‘menyangka’ atau ‘menduga’ tidak bisa dikatakan sebagai benar-benar tahu, tepatnya masih dugaan atau menduga. Hipotesa belum bisa dikatakan sebagai tesis, sebelum dibuktikan dengan observasi yang mendalam.
Dari kata di atas terdapat sebuah idiom jika ditambahkan kata harf jaar (preposisi) في (arti: di). contoh: يرى في القرآن artinya ‘Dia sedang mentadaburi Al-Qur’an’. Intinya, sekali pun bermakna mentadabburi, kata ini belum bisa dikatakan benar-benar tahu, melainkan satu dari salah satu proses untuk tahu, karena tadabbur juga sebuah proses untuk mengetahui (misalnya ayat-ayat Al-Qur’an) bukan telah mengetahui. Verba ini juga bisa dikatakan bersinonim dengan kata دَرَى – يَدْرِي.
2. Kata عَلِمَ – يَعْلَمُ, secara leksikal bermakna ‘tahu’ atau ‘mengetahui’. Dari kata ini terbentuk verba عَلّمَ (dengan tasydid di huruf ‘lam’) bermakna ‘mengajarkan’. Coba kita merenungi, tidaklah seseorang mengajarkan (sesuatu) kecuali dia telah (mengetahui) menuntut ilmu, atau mengilmui suatu ilmu. Jadi, ia telah melalui proses mencari tahu (misal: melihat), kemudian tahu, dan kemudian mengajarkan apa yang dia ketahui.
Dari verba ini juga terbentuk kata benda عِلْمُ (ilmu). Dari kata علِم – يعلم juga terbentuk isim fa’il, عالم (’aalim, jamaknya علماء ‘ulamaa), yang bermakna orang yang berilmu, atau ilmuwan. Artinya, kata kerja ini memiliki tingkat kepahaman lebih dari kata رأى – يرى . Ia bukan hanya sekedar melihat, tetapi sudah pada tahapan mengetahui, melakukan observasi atau penelitian lebih lanjut, sehingga ia disebut sebagai ilmuwan, orang yang mengilmui suatu bidang ilmu. Kata kerja ini juga bisa dikatakan memiliki tingkat kepahaman yang sama dengan kata فَهِمَ- يَفْهَمُ yang juga memiliki arti ‘memahami’. Kata paham dalam bahasa Indonesia, diserap dari kata ini فَهْمٌ.
Kata kerja ini juga bersinonim dengan kata verba فَقِهَ – يَفْقَهُ, yang memiliki arti ‘mengerti atau memahami’. Dari kata فقه – يفقه, kemudian membentuk kata فِقْهٌ (fiqih atau ilmu fiqih). Orang-orang yang memahami ilmu fiqih disebut dengan فاقه (faaqih, jamaknya فقهاء (fuqahaa’). Kata ilmuwan bersifat umum, ilmu apa saja, sedangkan faaqih, yakni ilmuwan yang mengilmui bidang fiqh atau hukum agama (syariat).
Sebagai catatan, kata faaqih pada abad modern ini mengalami penyempitan makna. Kata faaqih atau fuqahaa’ digunakan untuk menyebut orang yang ahli ilmu fiqih, padahal makna asalnya (dan ini digunakan pada masa-masa kegemilangan Islam) untuk menyebut orang yang ahli dalam segala ilmu, baik ilmu agama maupun sains, karena sejatinya Islam tidak pernah mendikotomikan antara ilmu sains dan ilmu agama. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa banyak di kalangan ilmuwan muslim, yang juga ‘ulama’ (makna dalam bahasa Indonesia), ‘ulama’ (makna dalam bahasa Indonesia) yang juga ilmuwan.
Jadi, verba علِم – يعلم bersinonim dengan kata فهم- يفهم dan فقه – يفقه, ketiga kata ini memiliki tingkat kepahaman yang sama, yakni mengalami proses observasi, penelitian dan dibarengi dengan sifat مجهّدة (Mujahadah) atau kesungguh-sungguhan (dalam mencari tahu atau memahami). Sebagaimana yang kita ketahui, terkadang seorang ulama atau ahli fiqih sering dinamakan مجتهد, Mujtahid. Secara kontekstual mujtahid memiliki makna orang yang berijtihad, akan tetapi kata إجتهاد (ijtihad) sendiri berasal dari kata اجْتَهَدَ – يجتهد yang bermakna, ‘berusaha keras’ (dengan sungguh-sungguh).
Verba علِم – يعلم juga bersinonim dengan kata عَرَفَ – يَعْرِفُ . kata عَرَفَ – يَعْرِفُ memiliki makna ‘mengenal’ atau ‘mengetahui’. Pada pola faa’il عارف dan عالم sama-sama berarti orang yang mengetahui. Sedangkan pola faa’il pada kata رَأَى – يَرَى menjadi رائي yang berarti orang yang melihat bukan yang mengetahui. maka kesimpulannya adalah kata علِم – يعلم , فهم- يفهم , فقه – يفقه dan عَرَفَ – يَعْرِفُ memiliki makna ‘tahu banget’ (sangat) lebih dari kata رأى – يرى .
Dari penjelasan verba-verba yang besinonim di atas, maka didapati urutan sebagai berikut:
* عَلِمَ – يَعْلَمُ Tahu/Mengetahui
* فقِهَ – يَفْقَهُ Mengerti/Memahami
* عَرَفَ – يَعْرِفُ Kenal/Mengenal
* فهم – يفهم Paham/Memahami
* دَرَى – يَدْرِي Mengerti/Mengetahui
* رَأَى – يَرى Melihat
Lantas bagaimana dengan terjemahan ungkapan di atas, “Mau tahu banget atau mau tahu aja?”, menurut saya jika merujuk pada penjelasan di atas maka terjemahan yang tepat adalah:
هل تريدُ أنْ تعرفَ أم تدري؟
Tanpa harus menuliskan kata جدا (banget) dan فقط (‘aja’), karena kata تعرفَ sudah memiliki arti lebih mengetahui dibandingkan kata تدري.
Ditulis oleh:
Yogi Theo Rinaldi - Arab 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar